pertemuan ke 2 dan ke 3

26 03 2010

Pertemuan ke 3

Pengertian Materialitas : jumlah/besarnya kekeliruan atau salah saaji dalam informasi akuntansi yang dalam kaitannya dengan kondisi yang bersangkutan, mungkin membuat pertimbangan keputusan pihak yang berkepentingan berubah atau terpengaruh oleh saji tsb (FASB No.2)

KAP = Kantor Akuntan Publik

FASB = Financial Accounting standards board

Auditing : mempunyai fungsi pengajuan atau pembuktian atau pemeriksaan atau mempunyai attest function.

Resiko Pemeriksaan

a)      Resiko penemuan yang direncanakan : resiko bahwa bahan bukti yang dikumpulkan dalam segmen gagal menemukan kekeliruan yang melewati jumlah yang dapat ditoleransi, kalau kekeliruan/salah saji semacam itu timbul. Ada 2 hal penting mengenai resiko penemuan yang direncanakan diatas, yang pertama : tergantung pada 3 unsur resiko lain dalam model. Yang kedua : resiko penemuan yang direncanakan menentukan besarnya rencana bahan bukti yang dikumpulkan, dalam hal yang berlawanan. Kalau resiko penemuan yang direncanakan diperkecil, auditor harus mengumpulkan bahan bukti yang lebih banyak dalam audit.

b)     Resiko bawaan : penetapan auditor akan kemungkinan adanya salah saji dalam segmen audit yang melewati batas toleransi sebelum memperhatikan faktor efektivitas pengendalian intern. Resiko adalah faktor kerentanan laporan keuangan terhadap salah saji yang material, dengan asumsi tidak ada pengendalian intern.

c)      Resiko pengendalian : ukuran penetapan auditor  akan kemungkinan adanya kekeliruan dalam segmen audit yang melewati batas toleransi yang tak terdeteksi atau tercegah oleh struktur pengendalian intern klien. Resiko pengendalian mengandung unsur : 1. penetapan apakah struktur PI klien cukup efektif dalam mendeteksi/mencegah kekeliruan, 2. keinginanan auditor untuk membuat tenetapan tersebut dibawah nilai maksimum (100%) dalam rencana audit.

d)     Resiko audit yang dapat diterima : ukurran ketersediaan auditor untuk menerima bahwa laporan keuangan salah saji secara material walau audit telah selesai dan pendapat tanpa pengecualian telah diberikan.

e)      Resiko usaha : tingkat resiko bahwa auditor atau KAP akan menderita kerugian yang diakibatkan hubungannya dengan klien walau laporan audit yang diberikan sudah pantas.

Norma Pemeriksaan : ukuran mutu pekerjaan akuntan. Seperti yang diakui oleh organisasi profesional akuntan (IAI)

  1. Norma Umum :

a)      Dilaksanakan oleh orang yang ahli atau beberapa orang yang telah        mendapat pelatihan dan pendidikan yang cukup dan memiliki keahlian sebagai akuntan.

b)     Bersikap independen               dalam segala hal yang berhubungan dengan penugasannya, akuntan harus senantiasa mempertahankan kebebasan dan pendapatnya (tidak memihak).

c)      Dalam melaksanakan pemeriksaan dan menyusun laporannya, akuntan wajib menjalankan kemahiran jabatannya/profesionalnya dengan seksama.

  1. Norma pelaksanaan pemeriksaan

a)      Pelaksanaan direncanakan sebaik-baiknya jika digunakan, bila ada asisten maka harus dibimbing dan diawasi dengan baik.

b)     Dilakukan penilaian atas sistem PI untuk menentukan dapat atau tidaknya sistem tersebut dipercaya dan sebagai dasar penetapan luasnya pengujian atas pemeriksaan yang harus dilakukan.

c)      Pembuktian harus cukup dengan melalui penelitian (inspection), pengamatan (observation), tanya-jawab (inquires), dan penegasan (confirmation) sebagai dasar layak untuk pemberian pendapat atas ikhtisar keuangan yang diperiksanya atau membahas evidance/bahan bukti harus yang kuat, kompeten dan cukup dan semua ini harus dilakukan untuk mendukung opini, agar tercipta fungsi pembuktian/attest function.

  1. Norma pelaporan

a)      Laporan akuntan harus menyatakan apakah ikhtisar keuangan telah disajikan sesuai dengan  PAI (prinsip akuntansi indonesia)

b)     Laporan akuntan harus menyatakan apakah penerapan PAI dalam ikhtisar keuangan tahun berjalan konsisten dibandingkan dengan tahun lalu.

c)      Penjelasan informatif (informative disclosure) didalam ikhtisar keuangan harus dipandang cukup memadai kecuali jika dinyatakan lain didalam laporan keuangan.

d)     Laporan akuntan harus disertai opini/pendapat mengenai ikhtisar keuangan secara keseluruhan atau memuat suatu penjelasan bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan, jika pernyataan tidak dapat diberikan, alasan-alasannya harus dikemukakan.

Sangsi bagi auditor/akuntan yang melanggar kode etik (jika memihak) :

a) Sangsi Ringan : ditegur

b) Sangsi Sedang : Diskors (paling lambat/paling lama 6 bulan)

c) Sangsi Berat : dipecat dari auditor

Bukti (Evidance) :

Adalah : segala sesuatu yang menjadi bahan dasar pendapat/opini akuntan atau bukti-bukti catatan/bukti pemeriksaan yang berbentuk rekaman, faktur/nota, hasil pemotretan yang dilakukan oleh seorang akuntan.

Menurut Arens : bahan bukti didefinisikan sebagai informasi yang digunakan auditor untuk menentukan apakah informasi kuantitatif yang sedang diaudit disajikan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Contoh dari informasi hasil kuantitatif selain laporan keuangan adalah audit hasil pemilu.

Jenis Bukti

  1. a. Ditinjau dari Bidang Ilmu :

1)      Bukti yuridis : bukti yang digunakan oleh hukum untuk memutuskan suatu perkara pengadilan atau terdakwa.

2)      Bukti ilmiah : bukti hasil penelitian ilmiah dan paling sulit dicapai dan menghasilkan suatu tesis/mendapatkan dalil suatu pendapat.

3)      Bukti auditor : bukti yang menjadi dasar untuk memberi opini/pendapat akuntan.

  1. b. Ditinjau dari asal bukti :

1)      Bukti intern : bukti yang berasal dari perusahaan yang diperiksa/dari auditing/pelanggan/klien contoh : voucher/bukti intern/faktur penjualan. Voucher : bukti intern untuk memerintahkan/sebagai bukti penerimaan/pengeluaran kas.

2)      Bukti ekstern : bukti yang berasal dari pihak ke-3 yang berhubungan dengan akuntan/klien.

3) Bukti dari pemilik : bukti yang berupa analisis/perhitungan pemeriksaan yang dibuat oleh pemeriksa selama waktu pemeriksaan. Bukti ekstern lebih kuat dari bukti intern.

Jenis-jenis bahan bukti dan tujuan audit

Jenis bahan bukti Tujuan audit
Keab

sahan

Keleng

kapan

Kepe

milikan

Peni

laian

Klari

fikasi

Pisah batas Akurasi, mekanis Pengun

kapan

Pemeriksaan fisik

Konfirmasi

Dokumentasi

Observasi/pengamatan

Tanya jawab

Akurasi/ketepatan mekanis

Prosedur analitis

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

v

Jenis Bahan Bukti :

  1. Pemeriksaan fisik/penghitungan aktiva berwujud oleh auditor/teknik audit : Bahan bukti ini dihubungkan dengan persediaan dan kas, verifikasi efek-efek, wesel tagih, dan aktiva tetap berwujud. Kalau obyek yang diperiksa misalnya : faktur penjualan tidak mempunyai nilai melekat, bahan bukti tersebut disebut dokumentasi.
  2. Konfirmasi/penerimaan jawaban tertulis maupun lisan dari pihak ketiga yang independen. Dapat dilihat dari tabel dibawah ini.
Informasi Sumber
Aktiva

Bank

Piutang Usaha

Wesel tagih

Persediaan konsinyasi

Persediaan di gudang pemerintah

Nilai penyerahan kas ke asuransi jiwa

Bank

Pelanggan

Pembuat

Consignee

Gudang pemerintah

Perusahaan asuransi

Kewajiban

Hutang usaha

Wesel bayar

Uang muka pelanggan

Hutang hipotik

Hutang obligasi

Kreditor

Peminjam

Pelanggan

Penerbit hipotik

Pemegang obligasi

Ekuitas

Saham yang beredar

Pencatat register dan agen penjual
Informasi Lain

Cakupan asuransi

Kewajiban bersyarat

Perjanjian penerbitan obligasi

Jaminan pada kreditor

Perusahaan lain

Penasehat hukum, bank, dsb

Pemegang obligasi

Kreditor

  1. Dokumentasi/vouching : dokumen-dokumen pendukung pemeriksa prosedur akuntansi atau pemeriksaan auditor atas dokumentasi dan catatan klien untuk menyokong/mendukung informasi yang ada atau seharusnya ada dalam laporan keuangan.
  2. Pengamatan/obsevasi : penggunaan perasaan untuk menetapkan aktifitas tertentu dengan menggunakan panca indera/melalui melihat, mendengar, menyentuh, dan mencium untuk mengevaluasi bermacam benda. Misalnya:  auditor mengunjungi pabrik untuk mengamati apakah peralatan telah berkarat untuk mengevaluasi keusangannya, melihat orang-orang melaksanakan tugas-tugas akuntansi untuk menentukan apakah orang yang diberikan tanggung jawab telah melaksanakannya.
  3. Tanya jawab dengan klien : mendapatkan informasi tertulis atau lisan dari klien dengan menjawab pertanyaan dari auditor. Hasil tanya jawab ini hanya sebagai bahan bukti lain yang menguatkan melalui prosedur lain.
  4. Pelaksanaan ulang (reperformance)/akurasi : mencakup pengecekan ulang sampel penghitungan dan perpindahan informasi yang dilakukan klien selama periode yang diaudit. Misalnya pengecekan perkalian dalam faktur penjualan dan persediaan, menjumlah jurnal, buku besar dan buku tambahan, mengecek perhitungan beban penyusutan dan  biaya dibayar dimuka.
  5. Prosedur analitis : menggunakan perbandingan dan hubungan untuk menentukan apakah saldo akun tersaji secara layak. Contohnya membandingkan persentase marjin laba dalam tahun berjalan dengan tahun sebelumnya.

Sifat bukti/tingkat keyakinan bukti : pada norma pelaksanaan pemeriksaan ke-3 adalah: bukti kompeten yang cukup harus diperoleh untuk mendukung pendapat yang diberikan.

Contoh Soal :

a. Dalam menaksir resiko deteksi dalam audit atas sediaan, auditor melakukan pertimbangan berikut ini :

  1. 1. berdasarkan pertimbangan auditor, ditentukan AAR/Acceptable Audit Risk untuk akun sediaan pada tingkat = 0,05 atau 5%
  2. 2. berdasarkan pertimbangan auditor, ditentukan IR/Inherent Risk pada tingkat 60%
  3. 3. berdasarkan pertimbangan auditor, ditentukan CR/Control Risk sebesar 30% karena pengendalian klien efektif berdasarkan hasil pengujian pengendalian yang dilakukan dalam audit tahun yang lalu.

Berapakah PDR/Planned detection risk?

  1. Jika menurut pertimbangan auditor, AAR/resiko audit yang dapat diterima diperkirakan sebesar 5%, IR/resiko bawaan ditaksir sebesar 70%, CR/resiko pengendalian 40%. Hitunglah PDR/resiko deteksi/resiko penemuan yang direncanakan?
  1. Diketahui :

IR = 100%

CR = 100%

DR = 4%

Berapa AAR/Achieved Audit Risk/Resiko audit yang dicapai?

AAR =5%, IR=70%, PDR = 0,179 berapa CR?

Pertemuan Ke 2

Kode EtikAkuntan di Indonesia

  1. Prinsip-prinsip etika : standar ideal dari perilaku etis yang dapat dicapai dalam terminologi filosofi. Yang terdiri dari :

a)      Tanggung jawab : dalam melaksanakannya tanggung jawab sebagai profesional, akuntan harus mewujudkan kepekaan profesional dan pertimbangan moral dalam semua aktivitas mereka.

b)     Kepentingan masyarakat : akuntan harus menerima kewajiban untuk melakukan tindakan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, menghargai kepercayaan masyarakat dan menunjukkan komitmen pada profesionalisme.

c)      Integritas : untuk mempertahankan dan memperluas kepercayaan masyarakat, akuntan harus melaksanakan semua tanggung jawab profesional dengan integritas tinggi.

d)     Objektivitas dan independensi : akuntan harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam melakukan tanggung jawab profeional. Akuntan yang berpraktek Sebagai akuntan publik harus bersikap independen dalam kenyataan dan penampilan pada waktu melaksanakan audit dan jasa atestasi lainnya.

e)      Keseksamaan : Akuntan harus memenuhi standar teknis dan etika profesi, berusaha keras untuk terus meningkatkan kompetensi dan mutu jasa, dan melaksanakan tanggung jawab profesional dengan kemampuan terbaik.

f)       Lingkup dan sifat jasa : dalam menjalankan praktek sebagai akuntan publik, akuntan harus mematuhi prinsip-prinsip perilaku profesional dalam menentukan lingkup dan sifat jasa yang akan diberikan.

  1. peraturan perilaku : standar minimum perilaku etis yang ditetapkan sebagai peraturan khusus yang merupakan keharusan
  2. Interpretasi : interprestasi peraturan perilaku. Tidak merupakan keharusan tetapi para praktisi harus memahaminya.
  3. ketetapan etika : penjelasan dan jawaban yang diterbitkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan peraturan perilaku yang diajukan oleh para praktisi dan lainnya yang tertarik pada persyaratan etika. Tidak merupakan keharusan tetapi para praktisi harus memahaminya

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: