Pertemuan Ke 6

24 05 2009

ERTEMUAN 6

BUKTI PEMERIKSAAN

I. Jenis Bukti.

a. SPI (Sistem Pengendalian Intern)

Pengendalian Intern merupakan metode yang berguna bagi manajemen untuk menjaga kekayaan organisasi, meningkatkan efektivitas dan efisiensi kinerja. Disamping itu, sistem pengendalian intern dapat mengendalikan ketelitian dan akurasi pencatatan data akuntansi.Menurut Committee of Sponsoring Organizations ( COSO) :“Internal controls are the tools that managers use (but are often not taught) to help achieve theirbusiness objective in the following categories :

Effectiveness and efficiency of operations

Reliability of financial reporting

Complience with external laws and regulations

Definisi ini dapat diartikan Pengendalian Intern adalah alat yang digunakan oleh para manajer (tetapi jarang diajarkan) untuk membantu dalam pencapaian tujuan usaha mereka dalam kategori berikut ini :

• Efektivitas dan efisiensi operasi

• Keandalan dari laporan keuangan

• Ketaatan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku (Audit Finansial, Audit Manajemen, Dan Sistem Pengendalian Intern 55)

Pengendalian Intern harus memberi keyakinan bahwa seluruh transaksi telah mendapat otorisasi dan dilaksanakan dengan benar sesuai kebijakan perusahaan, serta pencatatan transaksi tersebut dengan benar. Dibawah ini terdapat 5 tujuan pengendalian Intern atas transaksi, yaitu :

1.   Otoritas ( wewenang)

Setiap transaksi harus mendapat otoritasi semestinya berdasarkan struktur dan kebijakan perusahaan. Dalam keadaan atau masalah-masalah tertentu sangat mungkin diperlukan otorisasi khusus.

2.   Pencatatan

Pencatatan atas transaksi harus dilaksanakan sebagaimana mestinya dan pada waktu yang tepat dengan uraian yang wajar. Transaksi yang dicatat adalah transaksi yang benar-benar terjadi dan lengkap.

3.   Perlindungan

Harta fisik berwujud tidak boleh berada di bawah pengawasan/penjagaan dari mereka yang bertanggung-jawab. Dalam hal ini Pengendalian Intern memperkecil resiko terjadinya kecurangan oleh karyawan atau manajemen sekalipun.

4.   Rekonsiliasi

Rekonsiliasi secara kontinu dan periodik antar pencatatan dengan harta fisik harus dilakukan misalnya mencocokkan jumlah persediaan barang antara kartu persediaan denganpersediaan fisik di gudang.(Audit Finansial, Audit Manajemen, Dan Sistem Pengendalian Intern 56)

5.   Penilaian

Harus dibuat ketentuan agar memberikan kepastian bahwa seluruh harta perusahaan dicatat berdasarkan nilai yang wajar. Tidak boleh terjadi over maupun undervalved atas harta tersebut.

Elemen/Unsur SPI.

  1. b. Sistem akuntansi.          c. Pengendalian prosedur.

Bahan bukti diartikan sebagai segala merupakan informasi yang digunakan auditor dalam menentukan kesesuaian informasi yang sedang diaudit dengan kriteria yang ditetapkan. Adalah penting untuk memperoleh bahan bukti dalam jumlah dan kualitas yang cukup untuk memenuhi tujuan audit. Proses penentuan jumlah bahan bukti yang diperlukan dan penilaian kelayakan informasi sesuai dengan kriteria merupakan bagian penting dari audit.

b.   Bukti fisik.  Adalah bukti audit yang diperoleh dengan cara inspeksi atau perhitungan aktiva berwujud seta merupakan cara mengidentifikasi sesuatu yang diperiksa, untuk menentukan kuantitas dan setidak-tidaknya merupakan suatu usaha untuk menentukan mutu atau keaslian kekeyaan tersebut. Tipe bukti ini pada umumnya dikumpulkan oleh auditor dalam pemeriksaan terhadap persediaan, kas surat berharga, piutang wesel, investasi jangka panjang dan aktiva berwujud. Pemeriksaan terhadap aktiva merupakan cara langsung untuk membuktikan kebenaran adanya aktiva tersebut. Oleh karena itu, untuk jenis aktiva terentu bukti fisik dianggap sebagai bukti audit yang paling andal dan bermanfaat karena dapat menilai mutu serta kondisi aktiva tertentu. Seringkali bukti fisik bukan merupakan  audit  konklusif sifatnya, contoh: kas yang ada ditangan, yang dihitung oleh auditor terdiri dari uang dan cek yang diterima dari customer. Perhitungan kas tersebut tidak dapat memberikan jaminan bahwa semua cek dapat diuangkan pada saat disetorkan ke bank, karena adanya kemungkinan cek tersebut kosong. Kelemahan dari bukti fisik tidak dapat membuktikan adanya hak kepemilikan terhadap suatu aktiva jadi masih harus didukung oleh tipe bukti audit yang lain.

c.    Bukti dokumenter. Tipe bukti audit ini dibuat dari kertas bertuliskan huruf dan atau angka atau  simbol-simbol yang lain. Menurut sumbernya, bukti dokumenter dapat dibagi menjdai 3 golongan :

  1. Bukti dokumenter yang dibuat oleh pihak luar yang bebas yang dikirimkan langsung kepada auditor.
  2. bukti dokumenter yang dibuat pihak luar yang bebas yang disimpan dalam arsip klien.
  3. Bukti dokumenter yang dibuat dan disimpan dalam organisasi klien.

Dokumen intern adalah dokumen yang disiapkan dan digunakan dalam organisasi klien dan disimpan tanpa pernah keluar ke pihak lain seperti pelanggan atau penjual. Contoh dari dokumen intern adalah salinan faktur penjualan, laporan jam kerja, laporan penerimaan persediaan.

Dokumen Ekstern adalah dokumen yang telah ada ditangan seseorang diluar organisasi klien yaitu pihak yang mendokumentasikan transaksi, tetapi saat ini ada di tangan klien atau tersedia untuk diperoleh. Contoh dokumen jenis ini adalah faktur pembelian, wesel bayar yang ditolak dan polis asuransi.

d. Catatan akuntansi, jurnal, buku besar dan buku pembantu merupakan catatan akuntansi yang digunakan oleh klien untuk mengolah transaksi keuangan guna menghasilkan laporan keuangan. Oleh karena itu, pada waktu auditor melakukan verifikasi terhadap suatu jumlah tercantum dalam laporan keuangan, ia akan melakukan penelusuran kembali jumlah tersebut melalui catatan akuntansi. Dengan demikian, catatan akuntansi merupakan audit bagi auditor mengenai pengolahan transaksi keuangan yang telah dilakukan oleh klien.

Keandalan catatan akuntansi sebagai bukti audit tergantung pada pengendalian intern yang diterapkan dalam penyelenggaraan catatan akuntansi tersebut. Contoh :

  1. jika buku pembantu dipegang oleh karyawan yang tidak memegang buku besar dan secara periodik diadakan rekonsiliasi antara buku pembantu dengan akun kontrol (controlling accont) yang berkaitan dalam buku besar.
  2. semua jurnal umum harus mendapat persetujuan tertulis dari manajer akuntansi, maka auditor dapat menagngkat jurnal, buku besar dan buku pembantu sebagai bukti audit yang andal, yang mendukung angka-angka dalam laporan keuangan. Disamping jurnal, buku besar dan buku pembantu, catatan akuntansi sebagai bukti audit meliputi pula : rekapitulasi biaya, penjualan dan rekapitulasi angka yang lain, daftar saldo, laporan keuangan intern dan laporan keuangan yang dibuat untuk kepentingan manajemen.

e. Bukti lisan. Dalam mengumpulkan audit, auditor banyak meminta keterangan secara lisan. Keterangan yang diminta oleh auditor akan meliputi masalah-masalah yang sangat luas, seperti kebijakan akuntansi, lokasi catatan dan dokumen, alasan penggunaan prinsip akuntansi yang tidak berterima umum di Indonesia, kemungkinan pengumpulan piutang usaha yang tak tertagih, serta kemungkinan adanya hutang bersyarat. Umumnya bukti lisan tidak cukup tetapi buktiaudit ini dapat menunjukkan situasi yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut atau pengumpulan bukti audit lain yang menguatkan bukti lisan tersebut. Dalam mengajukan pertanyaan auditor hendaknya tidak bersikap otoriter maupun bersikap terlalu merendahkan diri. Auditor melaksanakan audit atas permintaan klien, oleh karena itu adalah kepentingan klien untuk menyadarkan karyawannya agar bekerjasama denga auditor dalam menyediakan informasi yang diperlukan oleh auditor tersebut. Di lain pihak, auditor harus menghindari sikap sebagai polisi. Auditor tidak boleh melakukan penyelidikan silang terhadap karyawan klien dan tidak boleh melakukan penekanan untuk memperoleh informasi.

f. Perhitungan. Perhitungan yang dilakukan sendiri oleh auditor untuk membuktikan ketelitian perhitungan yang terdapat dalam catatan klien merupakan salah satu bukti audit yang bersifat kuantitatif. Contoh tipe bukti audit ini adalah :

  1. Footing, yaitu pembuktian ketelitian penjumlahan vertikal
  2. Cross- footing, yaitu pembuktian ketelitian penjumlahan horisontal
  3. Pembuktian ketelitian perhitungan biaya depresiasi dengan cara menggunakan tarif depresiasi yang digunakan oleh klien.
  4. Pembuktian ketelitian penentuan taksiran kerugiant piutang usaha, laba per saham yang berdar, taksiran pajak perseroan dan lain-lain

g. Perbandingan. Untuk menentukan akun atau transaksi yang akan dipisahkan guna penyelidikan yang lebih intensif, auditor melekukan analisis terhadap perbandingan setiap aktiva, hutang, penghasilan dan biaya dengan saldo yang berkaitan dalam tahun sebelumnya. Jika tredapat perubahan yang bersifat luar biasa, diadakan penyelidikan sampai auditor memperoleh alasan yang masuk akal mengenai penyebabnya. Misalnya membandingkan jumlah rupiah dari tahun ke tahun, auditor juga mempelajari hubungan persentase berbagai unsur dalam laporan keuangan. Sebagai contoh :  auditor mengetahui bahwa dalam tahun-tahun sebelumnya klien menentukan besarnya kerugian akibat tidak tertagihnya piutang usaha sebesar 1% dari hasil penjualan bersih. Dalam tahun yang diaudit, klien menaikkan besarnya kerugian tersebut menjadi 8% dari hasil penjualan bersih. Perubahan yang cukup besar ini menyebabkan auditor melakukan penyelidikan secara seksama terhadap semua piutang usaha yang dihapus dalam tahun yang diaudit untuk menentukan penyebab kenaikan jumlah taksiran kerugian piutang usaha tersebut.

Bukti audit berupa perbandingan dan ratio ini dikumpulkan oleh auditor pada awal audit untuk membantu penentuan objek audit yang memerlukan penyelidikan yang mendalam dan diperiksa kembali pada akhir audit untuk menguatkan kesimpulan-kesimpulan yang dibuat atas dasar bukti-bukti lain.

h. Spesialis. Adalah seorang atau perusahaan yang memiliki kehalian atau pengetahuan khusus dalam bidang selain akuntansi dan auditing. Contohnya : pengacara, insinyur sipil, geologist, penilai (appraiser). Ada pekerjaan yang menurut auditor memerlukan pekerjaan spesialis dengan mempertimbangkan pada hal-hal berikut ini :

  1. Penilaian (misalnya : karya seni, obat-obatan khusus dan restricted securities).
  2. Penentuan karakteristik fisik yang berhubungan dengan kuantitas yang tersedia atau kondisi (misalnya : cadangan mineral atau tumpukan bahan baku yang tersedia di gudang).
  3. Penentuan nilai yang diperoleh dengan menggunakan teknik atau metode khusus (misalnya : beberapa penghitungan aktuarial).
  4. Penafsiran persyaratan teknis, peraturan atau persetujuan (misalnya : pengaruh potensial suatu kontrak atau dokumen hukum lainnya atau hak atas properti).

Auditor harus membuat surat perjanjian kerja dengan spesialis, tetapi tidak boleh menerima begitu saja hasil-hasil penemuan spesialis tersebut. Ian harus memahami metode-metode dan asumsi-asumsi yang digunakan oleh spesialis tersebut  sebagai bukti audit yang andal, kecuali jika menurut hasil pengujiannya menyebabkan ia berkesimpulan bahwa hasil penemuan spesialis tersebut tidak masuk akal.

Dalam SA Seksi 336 Penggunaan Pekerjaan Spesialis, diatur : Jika auditor menerima hasil penemuan spesialis sebagai bukti audit yang kompeten, hasil kerja spesialis tersebut tidak perlu disebut dalam laporan auditor yang berisi pendapat wajar. Jika auditor puas dengan hasil penemuan spesialis dan jika memberikan  pendapat selain pendapat wajar maka ia dapat menunjukkan hasil pekerjaan spesialis tersebut untuk mnedukung alasan tidak diberikannya pendapat wajar dalam laporan auditnya.

i. Konfirmasi.

Auditor biasanya menggunakan konfirmasi, kecuali :

a.   Piutang usaha tidak material

b.   Penggunaan konfirmasi akan tidak efektif.

c.    Gabungan tingkat risiko bawaan dan taksiran risiko pengendalian sedemikian rendah, dan bukti substantif dari prosedur lain dapat diakumulasikan untuk menyediakan bukti yang mencukupi.

Konfirmasi Positif, adalah konfirmasi dimana customer diminta untuk mengembalikan konfirmasi secara langsung kepada auditor, menyatakan bahwa setuju atau tidak setuju dengan jumlah yang ada dengan catatan klien.

  • Konfirmasi positif digunakan bila saldo akun individual besar, atau bila risiko bawaan dan pengendalian dipercaya akan tinggi dan adanya alasan bahwa kemungkinan ada jumlah yang substansial atas salah saji dalam akun.
  • Konfirmasi Negatif, pada umumnya berisi sama dengan konfirmasi positif , namun customer diminta untuk mengembalikan jika mereka tidak setuju dengan jumlah yang ditunjukkan dalam konfirmasi.
  • Konfirmasi negatif digunakan bila terdapat banyak akun-akun bersaldo kecil, risiko bawaan dan pengendalian dianggap kecil, dan orang-orang yang menerima permintaan konfirmasi dianggap akan memberikan auditor pertimbangan yang cukup.
  • Jika konfirmasi positif telah dikirim dan tidak ada balasan yang diterima, surat permintaan kedua dikirim. Jika balasan tidak diterima setelah surat kedua dikirim auditor akan melaksanakan prosedur alternatif.
  • Konfirmasi piutang usaha dapat mengurangi kecurangan, yaitu “lapping”.

Lapping dapat dicegah dengan adanya pemisahan fungsi piutang usaha dan kasir dan dengan mewajibkan semua pegawai untuk mengambil cuti.

j.  Pernyataan tertulis manajemen, Salah satu tipe bukti audit yang penting yang dibuat dalam organisasi klien adalah surat representasi manajemen (Letter of representation atau management representation letter). Surat ini dibuat oleh manajer tertentu dalam organisasi klien atas permintaan auditor, yang berisi fakta tertentu mengenai posisi keuangan dan kegiatan perusahaan. Contohnya : manajer keuangan perusahaan klien diminta oleh auditor untuk menulis suatu surat pernyataan yang menjelaskan bahwa menurut pengetahuannya semua hutang perusahaan telah dicantumkan dalam neraca. Tujuan auditor meminta surat representasi manajemen adalah untuk menyadarkan manajemen bahwa tanggung–jawab atas kewajaran laporan keuangan terletak di tangan manajemen. Surat representasi manajemen ini merupakan bukti yang penting tetapi bagi auditor bukti audit ini tidak membebaskan dirinya dari tugas untuk melakukan verifikasi terhadap informasi yang tercantum dalam surat tersebut. Oleh karena itu, surat bukti representasi manajemen tidak setingkat kompetensinya dengan bukti dokumenter lainnya.

II. Tahap Pengumpulan Bukti.

a. Prosedur audit. Adalah petunjuk rinci untuk pengumpulan jenis bahan  bukti audt tertentu yang diperoleh pada waktu tertentu selama audit.

b. Ukuran sampel. Dalam audit dimungkinkan untuk menentukan besar sampel dari satu sampai keseluruhan pos dalam populasi yang diuji. Misalkan ada 6.600 cek yang dicatat dalam jurnal pengeluaran kas. Auditor mungkin memilih sampel sebesar 200 cek untuk dibandingkan dengan jurnal pengeluaran kas. Keputusan menegnai berapa banyak pos yang harus diuji akan dibuat  oleh auditor untuk setiap prosedur audit. Besar sampel untuk satu prosedur tertentu akan bervariasi dari satu audit ke audit lainnya.

c. Item yang dipilih. Setelah besar sampel ditentukan bagi suatu prosedur audit tertentu, tetap diperlukan untuk memutuskan pos atau unsur mana  yang akan dipilih. Kalau auditor memutuskan, misalnya : memilih 200 cek dari populasi sebesar 6.000 untuk dibandingkan dengan jurnal pengeluaran kas, beberapa metode yang berbeda dapat digunakan untuk memilih cek tertentu yang akan diperiksa. Auditor dapat :

  1. memilih dan memeriksa 200 cek pertama dalam satu minggu
  2. memilih dan memeriksa 200 cek yang berjumlah terbesar
  3. memilih secara acak
  4. memilih cek yang oleh auditor diperkirakan akan memiliki kemungkinan kekeliruan.
  5. atau dapat juga menggunakan kombinasi-kombinasi dari 4 metode-metode yang telah disebutkan

d. Pengaturan waktu.  Audit dalam laporan keuangan biasanya mencakup suatu periode seperti 1 tahun dan audit biasanya belum selesai sampai beberapa minggu setelah akhir periode. Sampai pelaksanaan prosedur audit dengan bervariasi dari permulaan periode akuntansi sampai lama setelah periode tersebut berakhir. Dalam audit atas laporan keuangan, klien biasanya menginginkan audit selesai 1 atau 3 bulan setelah akhir tahun.

III. Prosedur Pemeriksaan.

a.    Pengusutan/penelusuran, merupakan bentuk penyelidikan yang dilakukan oleh seorang auditor dengan melakukan pemeriksaan hal-hal yang akan diaudit tidak sama dalam hal jumlah yang diterima oleh auditor dengan jumlah yang ada pada laporan keuangan dengan melakukan pengecekkan ulang sampai ditemukan sumber masalah. Atau auditor bertolak dari dokumen kemudian mengusut pencatatannya kedalam catatan-catatan akuntansi yang berkaitan. Dengan cara menyamakannya dengan sumber bukti-bukti yang ada dan bukti-bukti pendukung lainnya. Mula-mula data tersebut direkam pertama kali dalam dokumen, dilanjutkan dengan pelacakan pengolahan data tersebut dalam proses akuntansi. Prosedur audit ini terutama diterapkan terhadap bukti dokumenter. Contoh prosedur penelusuran yang dilakukan oleh auditor adalh pemerikasaan terhadap transaksi penjualan yang dimulai oleh auditor dengan memeriksa informasi dalam surat order dari customer, diusut kemudian dengan informasi yang berkaitan dalam surat order penjualan, laporan pengiriman barang, faktur penjualan, jurnal penjualan dan akun piutang usaha dalam buku pembantu piutang usaha. Penelusuran dilakukan dengan tujuan untuk menentukan ketelitian dan kelengkapan catatan akuntansi.

    b. Konfirmasi, merupakan penerimaan jawaban tertulis maupun lisan dari pihak ketiga yang independen dalam meverifikasi akurasi informasi yang telah diminta oleh auditor atau bentuk penyelidikan yang memungkinkan auditor memperoleh informasi secara langsung dari pihak ketiga yang bebas. Prosedur yang biasa ditempuh oleh auditor dalam konfirmasi adalah sebagai berikut :

    1. Auditor meminta dari klien untuk menanyakan informasi tertentu kepada pihak luar
    2. Klien meminta kepada pihak luar yang ditunjuk oleh auditor untuk memberikan jawaban langsung kepada auditor mengenai informasi yang ditanyakan oleh auditor tersebut.
    3. Auditor menerima jawaban langsung dari pihak ketiga tersebut.

    c.   Observasi, Merupakan prosedur audit yang digunakan oleh auditor untuk melihat atau menyaksikan pelaksanaan suatu kegiatan. Observasi terhadap penerapan dari prosedur dan kebijakan. Observasi yang paling efektif adalah ketika dilakukan dengan basis kejutan (surprise basis). Contoh kegiatan yang biasa diamati oleh auditor dalam auditnya adalah : penghitungan fisik persediaan yang ada di gudang klien, pembuatan dan perstujuan voucher, cara penyimpanan kas yang ada di tangan klien. Dengan pengamatan ini auditor akan dapt memperoleh bukti visual mengenai pelaksanaan suatu kegiatan. Objek yang diamati adalah karyawan, rosedur dan proses.

    d.   Inspeksi, Merupakan pemeriksaan secara rinci terhadap dokumen atau kondisi fisik sesuatu. Prosedur audit banyak dilakukan oleh auditor. Dengan melakukan inspeksi terhadap sebuah dokumen, auditor akan dapat menentukan keaslian dokumen tersebut. Dengan melakukan inspeksi terhadap kondisi suatu aktiva tetap, misalnya : auditor akan dapat memperoleh informasi mengenai eksistensi dan keadaan fisik aktiva tersebut. Dalam melakukan inspeksi dokumen, auditor dapat membandingkan dengan dokumen lain yang berhubungan.

    e.  Interview, bertanya kepada orang yang tepat di dalam perusahaan. Dari interview yang dilaksanakan auditor dapat menentukan apakah kebijakan dan prosedur pengendalian internal di dalam perusahaan tersebut berjalan dengan efektif sesuai dengan apa yang telah direncanakan.

    f.    Bukti pendukung/vouching, merupakan prosedur audit yang meliputi :

    1. Inspeksi terhadap dokumen-dokumen yang mendukung suatu transaksi atau data keuangan untuk menetukan kewajaran dan kebenarannya.
    2. Pembandingan dokumen tersebut dengan catatan akuntansi yang berkaitan.

    Prosedur ini berlawanan arah dengan prosedur penelusuran/pengusutan. Dalam  vouching, auditor bertolak dari catatan akuntansi, kembali memeriksa dokumen-dokumen yang mendukung informasi yang dicatat dalam catatan tersebut. Prosedur ini dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh bukti audit mengenai kebenaran perlakuan akuntansi terhadap transaksi yang terjadi.

    g.   Scanning, merupakan review secara cepat terhadap dokumen, catatan dan daftar untuk mendeteksi unsur-unsur yang tampak tidak biasa yang memerlukan penyelidikan lebih mendalam.

    h.   Perhitungan/counting, prosedur audit ini meliputi :

    1. Penghitungan fisik terhadap sumber daya berwujud seperti kas atau persediaan di tangan.
    2. Pertanggung-jawaban formulir bernomor urut tercetak. Penghitungan fisik digunakan untuk mengevaluasi bukti fisik kuantitas yang ada di tangan, sedangkan pertanggung-jawaban formulir bernomor urut tercetak digunakan untuk mengevaluasi bukti dokumenter yang mendukung kelengkapan catatan akuntansi.

    IV. Faktor Penentu Bukti Yg Meyakinkan

    a. Kompetensi, mengacu kepada derajat dapat dipercayanya suatu bahan bukti. Kalu bahan bukti dianggap sangat kompeten. Akan sangat membantu meyakinkan auditor bahwa laporan keuangan disajikan dengan wajar. Misalkan, auditor menghitung persediaan, bahan bukti tersebut akan lebih kompeten daripada manajemen memberikan auditor gambarannya sendiri. Sebagian auditor, menggunakan istilah keandalan bukti yang sama dengan kompetensi.

    Kompetensi bahan bukti hanya berkaitan dengan prosedur audit yang dipilih. Kompetensi tidak dapat diperbaiki dengan memperbesar smapel atau memilih pos yang lain dari populasi yang akan diaudit. Kompetensi dapat diperbaiki hanya dengan memeilih prosedur yang berisi satu atau lebih dari lima karakteristik bahan bukti yang kompeten berikut ini :

    1. Independensi penyelia data
    2. Efektifitas struktur pengendalian intern
    3. Pengetahuan yang diperoleh sendiri oleh auditor
    4. kualifikasi orang yang menyediakan informasi
    5. Tingkat obyektifitas

    Kompetensi informasi penguat dipengaruhi oelh berbagai faktor berikut ini :

    1. Relevansi
    2. Sumber
    3. Ketepatan waktu
    4. Objektivitas
    5. Cara pemerolehan bukti

    b. Kecukupan bukti, jumlah bahan bukti yang diperoleh menentukan kecukupannya jumlah diukur terutama dengan besar sampel yang dipilih auditor. Bagi prosedur auditing tertentu, bahan bukti yang diperoleh dari sampel sejumlah 200 lebih mencukupi daripada dari sampel sejumlah 100.

    c. Ketepatan waktu, mengacu kepada kapan bahan bukti dikumpulkan atau periode yang dicakup oleh audit. Bahan bukti biasanya lebih membantu dalam memberikan kesimpulan bagi perkiraan neraca kalau diperoleh sedekat mungkin dari tanggal neraca. Misalkan, perhitungan efek-efek oleh auditor pada tanggal neraca akan lebih dapat menyimpulkan daripada menghitung 2 bulan sebelumnya. Bagi akun R/L, bahan bukti akan lebih dapat menyimpulkan kalau dilakukan uji petik untuk seluruh periode yang diaudit daripada hanya sebagian periode. Misalkan, uji petik acak atas transaksi penjualan selam setahun akan lebih dapat menyimpulkan daripada uji petik hanya untuk 6 bulan pertama.

    V. Evaluasi Bukti.

    Seorang auditor harus bersikap:

    a. Kehati-hatian.

    b. Bersifat obyektif, dalam menjalankan tugasnya, anggota KAP  harus mempertahankan sikap objektivitas serta integritas,. Harus bebas dari bneturan kepentingan dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji material yang diketahuinya atau mengalihkan pertimbangannya kepada pihak lain. Oleh karena itu, sebelum auditor menerima suatu perikatan audit. Ia harus memastikan bahwa setiap profesional yang menjadi anggota tim auditnya tidak terlibat.

    c. Menyeluruh.

    VI. Pengujian Substantive.

    a). Prosedur analitikal: Jika terjadi kejanggalan, tujuan utama dari adalah untuk membantu perencanaan sifat, saat dan luas prosedur audit yang akan digunakan untuk memperoleh bukti tentangsaldo akun atau jenis transaksi tertentu. Untuk maksud ini, prosedur analitik dalam perencanaan audit harus ditujukan untuk :

    1. Meningkatkan pemahaman auditor atas usaha klien dan transaksi atau peristiwa yang terjadi sejak tanggal audit terakhir.
    2. Mengidentifikasi bidang yang kemungkinan mencerminkan resiko tertentu yang bersangkutan dengan audit.

    Prosedur analitik dapat mengungkapkan :

    1. Peristiwa atau transaksi yang tidak biasa
    2. Perubahan akuntansi
    3. Perubahan usaha
    4. Fluktuasi acak
    5. Salah saji

    Tahap-tahap prosedur analitik ada 6 tahapan :

    1. Mengidentifikasi perhitungan/perbandingan yang harus dibuat.
    2. Mengembangkan harapan
    3. Melaksanakan perhitungan/perbandingan
    4. Menganalisis data dan mengidentifikasi perbedaan signifikan
    5. Menyelidiki perbedaan signifikan yang tidak terduga dan mengevaluasi perbedaan tersebut.
    6. Menentukan dampak hasil prosedur analitik terhadap perencanaan audit.

    b). Pengujian terhadap saldo/transaksi, perhatian utama diberikan terhadap pengujian efektifitas pengendalian intern dengan menggunakan pengujian atas pengendalian. Tujuannya : untuk menentukan deviasi cukup rendah untuk mendasari pengurangan resiko pengendalian yang ditetapkan untuk mengurangi pengujian substantif.

    VII. Situasi Pemeriksaan Dengan Resiko Besar.

    Resiko (risk) atau exposure adalah kondisi yg dpt mengakibatkan kerugian bagi organisasi

    a.   SPI lemah, dalam situasi PI dalam suatu bidang melemah, auditor harus waspada dan mengumpulkan bentuk bukti audit rinci yang lain yang dapat mengganti bukti-bukti yang dihasilkan oleh pengendalian PI yang lemah tersebut.

    b.   Pergantian akuntan/auditor, klien yang mennganti auditornya tanpa alasan yang jelas, mungkin disebabkan oleh ketidakpuasan klien terhadap jasa yang diberikan oleh auditor yang lama. Tetapi, seringkali terjadinya penggantian auditor tersebut disebabkna adanya perselisihan antara klien dengan auditor publiknya mengenai penyajian laporan keuangan dan pengungkapannya. Klien baru yang telah mengganti auditornnya merupakan klien yang berisiko besar bagi auditor penggantinya.

    c.    Usaha spekulatif, auditor yang melaksanakan audit terhadap laporan keuangan yang kegiatannya dalam usaha yang sifatnya spekulatif, akan menghadapi resiko yang lebih besar bila dibandingkan dengan auditor yang melakukan audit terhadap perusahaan yang kegiatan usahanya relatif stabil dalam jangka panjang.

    d.   Transaksi kompleks, klien yang kegiatannya menghasilkan transaksi yang sangat rumit merupakan klien yang mengandung resiko besar bagi auditor bila dibandingkan dengan klien yang kegiatannya bersifat konvensional.

    e.   Perubahan undang-undang pajak, jika tarif pajak penghasilan tiba-tiba sangat besar, maka reaksi wajar perusahaan yang terkena adalah mencari cara meminimumkan penghasilan atau laba kena pajak. Seringkali beban pajak ini menyebabkan pergantian prinsip akuntansi yang diterapkan dalam perusahaan dan penafsiran transaksi perusahaan yang tidak konsisten dengan yang telah diikuti dalam tahun-tahun sebelumnya. Perubahan tarif pajak yang drastis akan mendorong perusahaan-perusahaan untuk menggeser pengakuan pendapatan dalam periode yang pajaknya masih relatif rendah.

    f.    Manajemen tidak kredibel/tak dapat dipercaya, sebelum menerima suatu perusahaan sebagai klien, auditor harus memperoleh informasi mengenai latar belakang atau riwayat direktur dan para manajernya. Auditor harus waspada terhadap manajer yang pernyataan-pernyataan lisannya ternyata sebagian atau seluruhnya tidak benar.

    g.   Kondisi keuangan tidak layak/sehat, suatu perusahaan yang mengalami kerugian atau dalam posisi yang sulit untuk melunasi hutangnya akana mempunyai kecenderungan untuk menunda penghapusan piuatangnya yang sudah sulit untuk ditagih atau persediaan barang dagangnya yang sudah tak laku dijual atau lupa mencatat utangnya. Hal ini tidak mungkin terjadi dalam perusahaan yang keadaan keuangannya baik.


    Aksi

    Information

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s




    %d blogger menyukai ini: